Kabarislam.id Umar bin Khattab (Arab: عمر بن الخطاب, lahir 583 Masehi – wafat 3 November 644 Masehi), adalah salah seorang sahabat nabi yang menjadi khalifah muslim yang paling berpengaruh dan penerus dalam menyebarkan agama Islam dalam sejarah.
Umar dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim, dari marga Bani Makhzum.[3] Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Padazaman jahiliyah keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis, yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka.
![]() |
| gambar sekedar ilustrasi |
Banyak hal yang bisa diteladani dari kepribadian Umar bin Khattab. Sahabat Nabi ini memang memiliki keistimewaan tersendiri, di masa pemerintahannya Islam bisa berkembang dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia. Dibalik kerasnya watak dan sifat beliau ada beberapa kisah yang bisa dijadikan teladan untuk umat Islam.
Ketika masih menjabat sebagai Khalifah, Umar bin Khattab memiliki cobaan yang cukup berat. Pada saat itu, umat Islam dilanda paceklik parah karena masuk dalam tahun abu. Di tahun abu, sangat sulit mendapatkan bahan makanan, sedangkan hasil pertanian sebagian besar rusak sehingga menyebabkan kelaparan.
Seperti biasanya, Khalifah Umar bin Khattab mengajak salah satu sahabat bernama Aslam untuk menemaninya berkeliling kota. Umar ingin memastikan semua warganya bisa tidur dan tidak kelaparan.
Ketika sampai di suatu tempat Umar berhenti. Ia mendengar tangisan anak kecil yang cukup keras. Kemudian Umar mencoba mendekati sumber suara tersebut yang berasal dari sebuah tenda kumuh.
Setelah dekat, Umar mendapati seorang wanita tua sedang duduk di perapian sambil mengaduk sebuah panci dengan sendok kayu. Umar kemudian menyapa ibu tersebut dan mengucap salam.
Si ibu tua tersebut menoleh kepada Umar dan membalas salam tersebut. Tapi, si ibu kemudian kembali melanjutkan kegiatannya.
“Siapakah yang menangis di dalam?” tanya Umar kepada ibu tua.
“Dia anakku,” jawab ibu tua itu.
“Mengapa dia menangis? Apakah dia sakit?” tanya Umar lagi.
“Tidak. Dia kelaparan,” jawab si ibu.
Setelah beberapa lama Umar merasa heran karena makanan yang dimasak oleh si ibu tua itu tidak juga matang. Untuk menghilangkan rasa penasaran kemudian bertanya pada si ibu tua, “Apa yang kamu masak? Kenapa lama sekali tidak matang juga?”
Si ibu tua tersebut kemudian menoleh “Silahkan kamu lihat sendiri.”
Umar kemudian menengok isi panci tersebut, alangkah kagetnya Umar ketika mengetahui bahwa yang dimasak oleh si ibu tua tersebut adalah batu. “Apakah kamu memasak batu?” tanya Umar. Si ibu menjawab dengan menganggukan kepalanya.
“Untuk apa kamu memasak batu ini?” Tanya Umar lagi.
“Aku memasak batu ini untuk menghibur anakku yang sedang kelaparan. Semua ini kesalahan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau memenuhi kebutuhan rakyatnya. Aku dan anakku belum makan sejak pagi, oleh karena itu aku menyuruhnya berpuasa dan berharap ada makanan ketika buka.”
“Tapi, sampai saat ini rezeki yang kuharapkan belum juga tiba. Kumasak batu ini untuk membohongi anakku sampai dia tertidur,” Kata ibu tua tersebut.
“Sungguh tidak pantas Umar bin Khattab menjadi Khalifah. Ia telah menelantarkan kami.” Tambah si ibu.
Mendengar hal tersebut, Aslam ingin menegur si ibu untuk memberitahukan bahwa yag ada di depannya adalah sang Khalifah. Tetapi, Umar menahan Aslam dan segera mengajaknya kembali ke Madinah sambil meneteskan air mata.
Sesampainya di Madinah kemudian Umar langsung mengambil sekarung gandum. Dipikulnya karung tersebut untuk disampaikan pada ibu tua tadi.
Melihat kondisi fisik Umar yang letih, Aslam berniat untuk mengantikan umar memanggul gandum tersebut. “Ya Amirul Mukminin, sebaiknya aku saja yang membawakan gandum itu”, kata dia.
Dengan nada yang keras, Umar menjawab, “Aslam jangan engkau jerumuskan aku ke dalam api neraka. Kamu mungkin bisa menggantikanku untuk memanggul satu karung gandum ini, tapi apakah kamu mau memikul beban di pundakku ini di hari akherat?”
Mendengar jawaban Umar, Aslam tertegun kemudian ia tetap mendampingi Ya Amirul Mukminin untuk mengantarkan gandum ke si ibu tua,Subhanallah. Mudah-mudahan ALLAH yang maha kuasa akan memberi kita seorang pemimpin yang seperti Umar, Amin.
Sumber : https://id.wikipedia.org
http://www.satujam.com/
Bagikan
Belajar Dari Umar Bin Khattab Pemimpin Yang Menagis Karena Rakyat Kelaparan
4/
5
Oleh
Unknown

